www.myrmnews.com Oknum Guru Hukum Siswa Hingga Tewas

|
Oknum Guru Hukum Siswa Hingga Tewas
|
Rakyat Merdeka. Eli Daeli (11) siswa kelas V di SDN Ciririt I, Desa Cijambu, Kecamatan Cipongkor Sindangkerta, Kabupaten Bandung meninggal dunia setelah sakit semalaman, (23/1) lalu. Menurut kesaksian keluarga, kematian Eli tidak wajar. Pasalnya, sebelum meninggal, Eli mengaku dipukul oleh gurunya, Suhendro (35).
Karuan, setelah kasusnya dilaporkan ke Polsekta Sindang Karta, Jumat (26/1), oknum guru honorer tersebut terpaksa menginap di sel tahanan Polsek.
Menurut pihak keluarga, sebelum meninggal, Eli terlebih dahulu mengalami sakit di leher. Sakit tersebut diakibatkan pukulan buku yang dilakukan Suhendro bertubi-tubi.
”Eli dan keenam temannya membolos sekolah, Sabtu (13/1). Ketika masuk sekolah, Senin (15/1) Eli pun terlambat. Maklum saja jarak rumahnya tiga kilometer dari sekolahnya.” papar Wawan Sopian, paman Eli mengawali kisah keponakannya.
Menurut Wawan, Senin (15/1) Eli dan enam orang temannya disetrap di dapan kelas. Sang guru yang geram, memukul kaki kirinya dengan mistar. Setelah itu, Eli diperbolehkan duduk kembali oleh gurunya. Namun, Eli mempertayakan buku yang masih berada di gurunya tersebut. "Buku saya mana Pak, kok buku saya belum dibagi" ujar Eli seperti yang ditirukan paman korban Wawan Sopian.
Pertanyaan Eli, teryatan malah membuat gurunya naik pitam. Lantas tanpa ampun, sebuah buku matematika yang digenggam sang guru, dipukulkan ke leher belakang Eli. Dia sendiri hanya bisa diam, ketika dipukul gurunya tersebut.
Pulang sekolah, bocah malang ini, menceritakannya kepada orang tuanya Obun (50) dan Tati (45). Kepada kedua orang tuanya, Eli sempat bercerita, " Kenapa Pak guru benci sekali kepada saya ? Kok cuma saya yang dihukum? Padahal ada teman-teman saya yang lain juga terlambat," keluh Eli seperti yang dituturkan orang tuanya Obun.
Malam harinya, tiba-tiba Eli mengalami demam yang sangat tinggi. Bekas pukulan di lehernya tiba-tiba membengkak. Saat tidur, kepalanya tidak bisa menoleh ke kiri.
"Saya tidak membawanya ke dokter. Dia hanya diberi obat jampi-jampi," aku Obun. Sakit Eli bukannya sembuh, malah semakin parah. Rupanya, Eli tidak kuasa menahan sakitnya. Selasa malam, Eli menghembuskan nafas terakhirnya.
Keluarga korban menaruh curiga dengan kematian anaknya tersebut. Bersama warga Cijambu, Wawan mendatangi sekolah. Wawan sendiri tidak berhasil menemukan Hendro saat itu. "Saya melihat guru-guru sepertinya tidak peduli. Ketika Eli sakit dan pada saat dia meninggal, tidak satu pun yang datang ke rumah. Dari pihak sekolah, hanya kepala sekolah. Itu pun setelah dikuburkan," ungkap Wawan kesal.
Curiga, pihak kelurga korban dan warga lalu melaporkan kasus kematian Eli kepada Polsek Sindangkerta, Kamis (25/01). Menerima laporan tersebut, polisi langsung mengadakan penyelidikan. Nah pada Jum'at (26/01), makan Eli pun dibongkar petugas.
"Pada awalnya, kami sempat berfikir kalau mau menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan. Namun, menurut polisi ada keganjilan dengan kematian Eli. Jika kami menolak untuk diproses hukum, berarti kita yang salah. Keluarga menyerahkan ini kepada pihak yang berwajib saja," terang Wawan.
Selanjutnya, oleh petugas, jenazah Eli pun dibawa ke RSHS Bandung untuk dilakukan otopsi. Sementara itu, dalam surat keterangan polisi yang ditandatangani Kapolsek Sindangkerta AKP Suharto tertera, diduga terjadi penganiayaan yang mengakibatkan luka kaki dan leher hingga bengkak.
Sedangkan barang bukti yang diduga berkaitan dengan kematian orang ini sudah diamankan polisi, berupa 1 buah buku dan 1 penggaris plastik. Menurut keterangan seorang petugas, Hendro saat ini sedang menjalani pemeriksaan di Mapolsek Sindangkerta. Mayat Eli pun masih diotopsi dokter untuk dicari tahu penyebab kematiannya. cr1/bwo/uwa/jpnn
|
http://www.myrmnews.com
|
|